GAMELAN KACA

Created | By: Adi Wardoyo | 2022-08-22 00:00:00

-GamelanKaca.jpg -

Pertunjukan Gamelan Kaca Menandai Berakhirnya Yogyakarta Gamelan Festival ke-27

YOGYAKARTA, 21 AGUSTUS 2022 -Pertunjukan hari terakhir Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-27 (#YGF27) dibuka dengan gamelan kaca dari Mandiro Laras, Minggu (21/8/2022). Grup karawitan pimpinan Muhammad Sulthoni atau Toni Konde ini terbentuk pada 2018.

Kelompok ini beranggotakan pemuda-pemudi yang ada di lereng Gunung Lawu Karanganyar Jawa Tengah. Semula, Mandiro Laras hanya memainkan gamelan yang terbuat dari logam.

Kelompok ini mulai memainkan gamelan kaca saat mengiringi pertunjukan wayang sampah di Karang Pandan, Karanganyar

Beberapa kali pula, Mandiro Laras membawakan gamelan sampah di perhelatan daerah, nasional, dan kolaborasi kelas internasional.

Dalam penampilannya kali ini, 21 anggota Mandiro Laras memainkan enam komposisi, yakni Ladrang Wilujeng, Wong Pintar, Nanani, Noyo Genggong Nagih Janji, Embun Pagi, dan Puspo Kencur. Di dalam komposisi yang dibawakan, kelompok ini juga ingin mengkritisi tentang lingkungan.

Komposisi berjudul Wong Pintar, misalnya, lagu ini ditulis secara satire dari perspektif manusia modern yang merasa bahwa plastik selalu dibutuhkan untuk segala hal. Seolah-olah tanpa sendok, garpu, dan sedotan plastik banyak orang meninggal kelaparan dan kehausan.

Tujuan lagu ini untuk menyatakan manisa sulit hidup tanpa plastik, padahal zaman dulu manusia tidak membutuhkan hal semacam itu untuk dapat bertahan hidup.

Gending lagu ini digarap dalam gaya gamelan Banyumasan dan juga menggunakan Bahasa Banyumas.

Ada pula komposisi yang bercerita tentang cinta. Nanani merupakan gending yang semula dibuat untuk pernikahan. Komposisinya menggabungkan musik gamelan dengan harmoni vokal musik indie folk barat. Lagu ini bercerita tanpa kata, perasaan saying yang membuat hati seoerti terbang melayang.

Pembuatan Gamelan Kaca

Sehari sebelumnya, Sabtu (20/8/2022), Toni Konde membagikan pengalamannya membuat gamelan kaca dalam workshop gamelan kaca di IFI-LIP Yogyakarta. Pegiat seni dari Pacitan ini mulai menginisiasi pembatan gamelan kaca pada 2015.

Ketika itu, ia menemukan banyak kaca yang tidak terpakai terbengkalai di sanggarnya. Kaca yang digunakan dalam pembuatan gamelan kaca adalah kaca biasa. Limbah-limbah dari kaca jendela atau bangunan menjadi bahan utama.

Bereksperimen dengan kaca untuk membuat gamelan pelog ternyata tidak mudah. Ia membutuhkan banyak kaca untuk menghasilkan bunyi gamelan yang selaras.

“Kan tidak ada babonan (induk) untuk menyelaraskan nada, jadi mencari keselarasan sendiri dan itu butuh banyak kaca sampai menemukan potongan yang pas,” ujarnya.

Setelah berkali-kali gagal, akhirnya Toni Konde berhasil membuat seperangkat gamelan pelog dari kaca. Bunyi gamelan di setiap lembaran kaca berbeda.

Nada yang dihasilkan gamelan kaca bergantung dari ukuran dan ketebalan kaca. Ketebalan yang dimaksud berkisar 3 sampai 12 milimeter.

“Biasanya yang tipis and pendek menghasilkan nada tinggi dan yang tebal serta panjang menghasilkan nada lebih rendah,” ucapnya.

Bentuk gamelan kaca yang dihasilkan Toni Konde pun tidak seperti layaknya gamelan logam. Misal, ia membuat bonang berbentuk kotak, demikian pula dengan gong.

Cara memukul gamelan kaca juga tidak bisa sembarangan atau sekuat tenaga seperti memukul gamelan berbahan logam. Ia memakai kayu yang dilapisi karet ban sebagai pemukul.

“Waktu awal banyak kaca pecah ketika dipukul karena biasanya yang menabuh gamelan kaca pertama kali tidak tahu tekanan pukulannya seberapa, tetapi saat ini yang sudah terbiasa bisa menyesuaikan tekanan pukulan gamelan kaca,” kata Toni Konde.

Gamelan kaca buatannya sudah beberapa kali dipentaskan di Solo dan Pacitan. Namun, Toni Konde belum berpikir untuk menjual gamelan kaca buatannya.

Ia beralasan sulit menentukan harga jual karena bahan yang digunakan selama ini hanya limbah kaca pemberian teman-temannya.

“Sudah ada beberapa yang pesan, tapi saya belum bisa menaksir harga jualnya,” tuturnya.

Semangat Bertumbuh dalam #YGF27

Menurut Program Director Yogyakarta Gamelan Festival Ishari Sahida, #YGF27 membuktikan penyelenggaraan festival ini masih relevan untuk dilakukan. Hal ini mempertegas akar kebudayaan semakin menancap kuat serta cabang dan ranting yang sudah menjulur ke segala arah terlihat.

“Sekarang tugas kita bersama untuk merawat dan membiarkannya tumbuh,” ujar Ari Wulu, sapaan akrabnya, dalam penutupan #YGF27.

Yogyakarta Gamelan Festival ke-27 (#YGF27) digelar selama tiga hari di Pendopo Agung Ndalem Mangkubumen Yogyakarta, Jumat sampai Minggu (19-21/8/2022). Berbeda dengan penyelenggaraan YGF 2020 dan 2021, YGF 2022 kali ini kembali digelar secara luring atau offline. Penonton bisa menyaksikan langsung konser gamelan yang digelar mulai pukul 19.15 WIB selama penyelenggaraan #YGF27.

Dalam #YGF27 kali ini sejumlah peserta dari dalam dan luar negeri ikut berpartisipasi. Selama tiga hari, pencinta gamelan bisa menikmati penampilan dari Dharmasanti Tjakrawarsita, Binasiwi, Untu, Krumpyung, Gayam16 kolaborasi Rebonds Collectif Artistique, Sandikala Ensemble, Omah Cangkem, Saraswati, Formatasindo, Gamelan Kaca, dan Sendraria.

Tidak hanya konser gamelan, #YGF27 juga menghadirkan kegiatan rutin workshop serta rembug budaya. Selain workshop gamelan kaca, #YGF27 juga menghadirkan workshop Real Time Music yang diadakan di IFI-LIP, Kamis (18/8/2022) pukul 14.00 sampai 16.00 WIB.

Pemateri dalam workshop ini adalah Christian Sebille dari Prancis yang akan mengajarkan penciptaan suara dan transformasinya secara real time. Christian Sebille berlatih improvisasi dengan alat musik  (max/msp, ableton live). Perangkat dawai di komputernya yang memungkinkan untuk mengubah suara instrumen selama waktu permainan dengan mengambil materi suara dan mengubahnya secara “real time” serta mengembalikannya saat konser.

Sementara rembug budaya dengan tema Mencari Maestro Karawitan Yogyakarta diadakan di IFI-LIP, Minggu (21/8/2022). Pemateri dalam diskusi ini adalah Aris Setyawan (etnomusikolog) dan Setya Rahdiyatmi (dosen jurusan karawitan ISI Yogyakarta).

Tema rembug budaya kali ini berangkat dari fenomena seni karawitan di Yogyakarta yang telah memiliki banyak pemain, peneliti, dan praktisi muda yang berkecimpung dalam dunia karawitan. #YGF27 membuka diskusi untuk mencari siapa sekiranya yang pantas dijuluki maestro gamelan di masa depan.

Pikiran ini muncul berkat pengalian dan pendekatan panitia YGF terhadap arsip-arsip tokoh gamelan pada zaman dahulu.

Aris Setyawan memaparkan materi mengenai bagaimana fenomena maestro dalam musik populer. Siapa yang disebut maestro musik populer, dan pola apa saja yang membentuk seorang maestro. Dalam contoh kasus, dapat menampilkan nama-nama seperti Didi Kempot, Noah, dan seniman musik populer lainnya. Sementara, Setya Rahdiyatmi menjelaskan materi dari sudut pandang akademisi dalam melihat perkembangan seni karawitan.

Yogyakarta Gamelan Festival atau yang sering disebut YGF merupakan festival berskala Internasional yang mewadahi pertemuan antara pemain dan pencinta musik gamelan dari seluruh dunia. YGF lahir pertama kali pada 1995 dari keresahan Sapto Raharjo yang melihat gamelan mulai dilupakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Perhelatan YGF pun digelar dan menandai lahirnya tempat atau wadah bagi eksistensi gamelan untuk dikenal di 36 negara. Sesuai dengan misinya, menggagas kehidupan seni gamelan yang dinamis, selalu menyelaraskan diri dengan zaman tanpa harus kehilangan latar belakang budayanya, dan saling menghargai keanekaragaman kebudayaan di dunia, YGF berupaya untuk menciptakan dan mengelola media yang secara kontinu menjadi sarana berkumpul, berkomunikasi, dan berinteraksi bagi para pencinta seni gamelan.

Copyright © 2019 GERONIMO FM All rights reserved. develop by jasa pembuatan website profesional